Tim Evakuasi Tanaman

Hujan turun sangat lebat di pagi hari, airnya juga tergenang menyebabkan tim evakuasi tanaman bergegas mengumpulkan niat menuju Fakultas Pertanian. Kami khawatir tanaman yang berada disana juga tergenang. 

Hujan turun mengguyur kami, sehingga baju yang dipakai basah. Selama 8 menit perjalanan menuju Fakultas, air hujan begitu cepat menggenang di sepanjang jalan. 

Selain hujan yang menyebabkan air tergenang, juga meluapnya air parit dipinggir pemukiman sepakat 2, ditambah lagi sampah yang menghambat saluran parit jadi semakin parah.

Tim evakuasi semakin mempercepat gerak langkah kaki, sampai ke tempat tujuan. Mata tim sudah melihat dari kejauhan bahwa benar tanaman yang tersusun rapi dalam polibag di lahan sudah tergenang.

Melihat kondisi tanamannya tidak masalah, baik baik saja. Tetapi, tim evakuasi tanaman harus cepat melakukan penyelamatan. 

Tim evakuasi tanaman selain tugasnya menaman juga bertugas sebagai dokter dan perawat, dokter bertugas melihat keadaan tanaman apakah mati atau mengalami stress tanaman dan perawat tugasnya merawat setelah dievakuasi.

Tim evakuasi menggunakan alat dan bahan seadanya, mencari potongan kayu bulat dan bekas tumpukan tanah di dalam polibag yang tidak digunakan lagi.

Tim mulai menyusun potongan kayu bulan diatas polibag besar. Setelah itu mengangkat polibag yang berisi tanaman dengan spesies Saccharum edule Hassk (Tebu Telur). Tanaman tersebut berjumlah 125 tanaman setiap polibag berisi satu tanaman.

Kenapa tim evakuasi menyelamatkan tanaman? 

Tanaman tebu telur yang ada dalam polibag adalah penelitian mahasiswa Pertanian Universitas Tanjungpura. Jika tim evakuasi tidak menyelamatkannya akan tergenang air dan menyebabkan kematian pada tanaman.

Lama penelitian dari bulan November sampai Februari dan sampai sekarang sudah memasuki  bulan Januari. Penelitian hanya sampai pada fase vegetatif maksimum. Kalau sampai fase generatif berkisaran 5 bulan sudah bisa panen.

Pemilik penelitian yang dievakuasi bernama Jasani, jurusan agroteknologi angkatan 2013. Sebentar lagi penelitiannya selesai dan mempersiapkan hasil yang didapat menuju wisuda, maka dari itu tim harus sigap. 

Kelebihan tim evakuasi yang berasal dari mahasiswa pertanian menjadi dokter tanaman, tugasnya juga mengetahui penyakit maupun membasmi hama. 

Menjadi dokter tanaman tidak semudah menjadi dokter manusia, kalau manusia jika dia sakit kita tanya keluhannya apa? pasti dijawab. Lah, kalau tanaman bagaimana? nah, dokter itu sendiri yang mencari solusi penyakitnya. 

 

Iklan

Kesempatan 

Oleh : Azril Rofiq

 Aku ingin mencintaimu setulusnya

Sebenar benar aku cinta dalam setiap langkah, aku ingin mendekatimu.

Tetapi, aku malah duduk diam ditemani sepi dan sunyi.

Menatap langit yang bungkam seribu bahasa, enggan membuka suara. 

Mengapa ketika sepenuhnya percaya, aku pergi menyisakan kenangan.

Kenangan yang selama ini dipendam, kian hari semakin kelam.

Hati seakan rusak hancur berantakan, membentuk desiran sembulu.

Menyayat perlahan lahan penuh kelembutan, meninggalkan perih yang tersisa. Mencekam hingga tak berdaya.

Tuhan betapa aku malu

Atas semua yang Kau berikan

Padahal diriku terlalu sering membuatmu kecewa. Entah mungkin karena kuterlena

Sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali agar aku kembali, dalam pitrahku sebagai manusia.

Pontianak, 12 Januari 2018

Mengejar Toga

Perjuangan awal masuk kuliah bulan september 2014 silam. Susah senang sudah kami lakukan mengerjakan tugas sampai jalan jalan selalu bersama.

Bukan main selama masa perkuliahan berlangsung dari semester satu sampai akhir, kami selalu mendapat tugas membuat makalah dari dosen pengajar matakuliah masing masing. 

Belum lagi tugas praktikum beban kami semakin berat. Pikiran mulai bercabang cabang, tugas mana yang harus didahulukan. 

Ets…. Walau banyak tugas, kami cepat mengerjakan sebelum deadlinenya, itu yang terbaik buat kami. Sistem kredit gtu. Tahukan yang kami maksud. Jauh jauh hari sudah di garap supaya tidak keburu buru saat waktunya dikumpulkan. Jangan pernah menunda, Ok.

Saat menyandang sebagai mahasiswa baru, tugas memang banyak. Tugas buat makalah materi,  laporan praktikum, UTS dan UAS. Sampai menjadi mahasiswa akhir tugasnya sedikit tetapi bebannya lebih berat buat proposal skripsi. 

Sebelumnya perkenalan diri kami dulu, kuliah dimana? iyakan teman teman pengen tahu!

Kami kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Pontianak, Kalimantan Barat. Tahukan ? Kalimantan Barat itu dimana?

Nah, provinsi itu menyatukan kami bertiga. Menjadi calon sarjana pertanian.

Suka duka jangan ditanya? pasti banyak banget, nggak terhitung lagi. Mulai dari tempat tinggal ngekos, makan harus irit, dan lain lain. Mahasiswa yang tinggal di kos pasti tahu suka dukanya.

Teman teman pasti juga tengah berjuang bukan, tetap semangat. Siapkan peralatan mendukung kuliah kalian, seperti flasdisk, printer, tinta, laptop, kertas HVS. nah, alat alat itu penting loh saat kita mulai mengerjakan proposal skripsi. 

Nggak punya itu terasa sangat sulit, semuanya sudah kami alami. Sudah ngekos, nggak punya uang rasanya nyesak banget. Jadi kalau teman teman punya banyak uang silakan mencicilnya.

Oh, iya kami belum perkenalan diri. Iya sudah perkenalannya dari saya dulu. Nah, nama saya Ario, sekarang masih dalam tahap mengerjakan proposal skripsi. Mohon doanya supaya cepat cepat selesai mengejar kedua sahabat karibku itu. 

Bulan Oktober 2017 lalu, sahabatku sudah wisuda. Namanya Alan Nuari, dia menyandang lulusan tercepat dari seniornya. Memperoleh IPK 3.87, dia selesai 3 tahun 24 hari. Wow. Luar biasa bukan.

Sahabat karibku selanjutnya bernama Mahmudi, dia baru selesai tanggal 9 Januari 2018. Dia juga lulusan tercepat loh dengan IPK 3.54. Sebentar lagi wisuda pada tanggal 25 yang akan datang.

Hmmmm, saya kapan? semoga bisa menyusul mereka berdua. Mohon doanya teman teman, saya sedang berjuang juga menyelesaikannya. 

Tunggu saja informasi selanjutnya, selain informasi wisudaku kapan? saat ini saya juga menulis buku dengan judul TOGA KESABARAN, rencananya buku itu sebagai hadiah wisudaku nanti.

Tulisan itu pengen cepat cepat diselesaikan, menjadi karya nyata saya selanjutnya. Saya tidak bermaksud sombong loh, kepada teman teman.

Sangat indah bukan, punya karya sendiri. Iya, walau tidak sekelas penulis besar, setidaknya sudah berusaha menjadi yang terbaik buat diri sendiri dan karya saya bermanfaat buat orang banyak.

Selain punya karya ingat teman teman tujuan utama kita KULIAH, itu amanah orangtua apalagi kuliah adalah doa pertama kita setelah lulus dari sekolah menengah atas bukan.

Tetap semangat dan bersabar dalam mengejar Toga.

TITIK HITAM TAK LEBAR LUAS

Oleh : Azril Rofiq

Titik hitam tak lebar luas…
Pernahkah aku berjalan tanpa tujuan dan merasa puas

Aku berpikir jiwa merana dalam kehampaan, kelemahan, dan kekurangan

Titik hitam tak lebar luas…

Pena telah terangkat, lembaran putih tulisan tinta hitam telah kering 

Berbanding putih pandangan mata, seribu sesalku yang membara. Kubaca jawab menghilang bimbang

Aku tidak merasa petang, maut belum kunjung datang. Melihat jejak-jejak sedihku. Dimata air, didasar kolam. Kucari jawaban teka-teki alam

Titik hitam tak lebar luas…

Terdengar olehku, gelombang kenang membanding diri. Rasanya lama lagi, kenikmatan mata melintas putih bagi jiwa yang ragu-ragu dijalan itu, 

Tuhanku….

Aku masih menyebut nama-Mu. Tak ada berat air mata penyesalan jiwa. Cukuplah satu guna sesal, menuju akhir hidupku.

Pontianak, 11 Januari 2018

Puluhan hektar kelapa Sawit, masih terdapat Ladang Padi

Kelapa sawit di Kalimantan Barat dapat dipastikan menjadi tanaman komoditas perkebunan terbesar, di setiap kabupaten bahkan kecamatan banyak yang mulai membudidayakan kelapa sawit.

Perkebunan itu sudah banyak membantu masyarakat. Pertama mereka mendapatkan pekerjaan yang tidak terlalu memerlukan keahlian khusus seperti kerja di bank, restoran, pabrik dan lain lain. 

Kelapa sawit sangat berperan dibidang ekonomi, sebagai penyumbang Anggaran Pendapatan Daerah (APBD). Dana yang didaoatkan dari pembayaran pajak perusahaan kelapa sawit digunakan untuk pembangunan infrastruktur publik yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Kelapa sawit juga merupakan tanaman tahunan dengan usia produktif hingga 25 tahun. Sehingga masyarakat bisa melakukan proses penanaman setelah itu hanya berfokus pada perawatan agar hasil produktifitasnya meningkat.

Selain perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan pekerjaan, mereka juga bisa menanamnya sendiri di sekitar pekarangan rumah dengan berbekal pengetahuan yang dimiliki.

Banyak yang mereka rasakan hasil dan manfaat dari perkebunan kelapa sawit, salah satunya anak anak mereka mendapatkan bantuan dana pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai mengenyam perguruan tinggi. Aku termasuk bagian dari anak anak itu, kalau tidak karena hasil dari kelapa sawit mungkin aku tidak melanjutkan sampai ke perguruan tinggi.

Saat liburan berlangsung, aku selalu jalan jalan mencari informasi seputar pertanian. Rupanya jalan jalanku berbuah manis, aku menemukan masih ada masyarakat selain menanam kelapa sawit mereka juga menanam padi di ladang.

Aku mulai sedikit berbincang dan janjian ingin ikut mereka ke ladang tersebut. Mereka mempersilakan. Tapi, mereka bilang perjalanannya cukup jauh, apa mampu?

Aku spontan saja menjawabnya, mampu. Semakin penasarannya dengan ladang itu, karena puluhan hektar kelapa sawit masih terdapat ladang, itu yang membuat aku menggebu gebu ingin ikut. Rasanya mustahil, setiap perjalanku yang terlihat hanya deretan kelapa sawit.

Keesokkan harinya aku benar benar ikut, karena sudah janjian berangkatnya pagi.

Benar apa yang mereka sampaikan perjalanannya lumaian jauh, dari tempat tinggal menuju ladang. Jaraknya 4 kilo meter, meninggalkan kampung. Letak kampung tersebut di kecamatan Marau, kabupaten Ketapang.

Berjalan kaki 4 kilo meter tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Pada akhirnya aku pernah merasakannya, tiga botol air minum yang aku bawa habis. Tambah lagi napasku ngos ngosan, orang yang aku ikuti itu malah ketawa melihat aku seperti itu.

Awalnya hanya melewati perkebunan kelapa sawit, semakin lama perjalanan kami mulai masuk ke dalam hutan yang masih lebat. Mereka bilang hutan itu peninggalan turun temurun dari keluarganya, sengaja tidak di jual ke perusahaan perkebunan kelapa sawit biar bisa bercocok tanam padi.

Melewati titi kecil membentang sungai pimping namanya, kalau aku terjatuh di sungai itu apa yang terjadi?

Setelah melewati titian itu, sekitar 200 meter. Aku menemukan titi lagi. Tetapi yang ini bukan sungai melainkan danau candik namanya.

Akhir dari perjalanan panjang itu, aku sampai juga di tempat tujuan. Benar terbentang hamparan padi di ladang itu, kebetulan sekali aku datang sudah ada yang sedang panen padi dengan hanyi atau getam padi secara manual.

Rupanya selain perjalananku ditemani beberapa masyarakat, di ladang itu sudah ada yang lebih dulu sampai. Mereka berangkat lebih awal dari kami.

Perempuan perempuan hebat dan tangguh dari kampung, jadi jangan remehkan mereka.

Aku beristirahat sebentar sambil melihat mereka menggetam padi dengan hanyi yang terbuat dari baterai bekas.

Merasa sudah cukup, aku juga ikut menggetam. Aku malu kalau tidak ikut sebagai calon sarjana pertanian, aku harus tahu cara memanen padi baik secara dengan alat yang manual maupun alat modern seperti di kampusku.

Nah, itu hasil yang aku dapatkan. Karena sudah letih, aku duluan ke pondok. Tempatnya belum terisi penuh. 

Aku beristirahat sambil menunggu yang lain selesai. Kami makan di pondok itu, karena nggak mungkin pulang untuk perjalanan saja lumaian jauh. Pastinya perlu istirahat memulihkan tenaga.

Padi yang di tanam lamanya 3 bulan mulai dari tanam sampai masak. Sebelumnya mereka harus menebang pohon, bakar lahan sampai pembersihannya. Mereka setiap hari pergi ke ladang.

Aku bangga kepada mereka, semakin maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit yang menjanjikan hasilnya. Tetapi mereka masih mempertahankan hutan sebagai aset masa depan buat anak anak mereka nanti.

Pada dasarnya penebangan hutan, pembakaran hutan sudah dilarang. Tetapi kenyataanya masih ada yang seperti itu. Mereka lakukan itu semua kurangnya sosialisasi dari penyuluh pertanian, selain itu juga karena kebiasaan turun temurun dari keluarga mereka.

Aku sebagai calon sarjana pertanian menjadi PR besar, menciptakan pertanian berkelanjutan yang modern.

Perkebunan kelapa sawit memang menjanjikan. Tetapi, kita semua memerlukan pertanian sebagai kelangsungan hidup. 

Perjalananku

Liburan kali ini aku di beri kesempatan pulang, semejak tanggal 22 Desember 2017 sampai 03 Januari 2018. Bukan main sudah lama aku tidak pulang kampung, rasa rindu jangan di tanya lagi tidak dapat aku katakan dengan kata kata. Aku merantau di kota untuk menuntut pendidikan buat masa depanku. 

Rasa rindu membawaku ingin pulang, bukan karena alasan rindu dengan kampung halaman. Tetapi, ada kedua malaikatku yang sedang berjuang mencari rezeki di tempat itu.

Rindu itu semakin menggebu gebu dalam pikiranku. Pada tanggal 22 Desember 2017 pagi harinya aku memutuskan ingin pulang.

Aku mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel kecilku. Aku pulang sendiri tanpa teman, maklum yang dari sana hanya aku sendiri. 

Setelah semuanya selesai aku meninggalkan kota perantauan menuju kampung tercinta yang berada di pedalaman Kalimantan Barat.

Selama 18 jam perjalananku menempuhnya sampai kampung halaman, jangan di tanya? letih itu sudah pasti. Bukan main lagi, perjalanannya. Kalau bukan rindu dengan kedua malaikatku tidak rela aku pulang melihat jalan seperti itu.

Jalan yang aku lewati itu jalan negara, walaupun kiri kanan jalan sudah berderet pohon pohon sawit tetap saja namanya jalan negara. 

Pikiranku tentang jalan negara itu bagus penuh dengan aspal, tapi pada kenyataannya bisa dilihat sendiri. Sudah lama jalan itu belum pernah menempel aspal, ya… Setidaknya karena sudah bekerjasama dengan perkebunan ada alternatif buat pembangunan jalan. 

Aku tidak tahu yang ada di pikiran orang lain terutama yang pantas memperbaikinya.

Jalan itu akses masyarakat bisa pulang dan pergi dari kota ke desa atau sebaliknya. Saat musim hujan lebat jalan itu penuh lumpur kuning bahkan jalannya licin, bisa bisa menyebabkan siapa saja yang lewat bisa terjatuh.

Aku selalu bertanya kenapa jalan itu lama di perbaiki, apa gara gara anggarannya untuk jalan tidak cukup.

Pemerataan infrastruktur jalan yang dimaksud itu seperti apa?

Masyarakat setempat sudah tidak lagi melihat kondisi jalan yang penuh dengan lumpur, mereka tinggal melihat ke atas memandang langit penuh warna yang sangat cerah.

Hati kecil mereka pasti berharap yang terbaik, tapi sayang secara perlahan sudah tertutup dengan rasa kecewa dengan janji janji manis. 

Roda dua, roda empat melaju dengan santai. Beberapa gaya dalam perjalanan mereka nikmati. Andai saja, ada batu batu kerikil yang menumpuk kiri kanan jalan. Tangan tangan seni di sana akan menatanya dengan rapi melakukan gaya seni indah sebagai antusias mereka, bahwa dengan batu saja bisa memperbaiki jalan, apa lagi dengan puluhan ribu uang bahkan milyaran.

Uang itu tidak pernah terbayang berapa banyaknya kalau di belikan cendol, pasti berenang.

Selama 3 tahun melewati jalan itu sangat luar biasa, aku apresiasi. Perjalananku begitu indah, aku merasakan hikmah di balik semua itu. Pada dasarnya perjalananku melewati jalan yang penuh dengan lumpur itu bukan apa apa, Allah pasti memberikan yang terbaik setiap jejak jejakku. 

Anak Alam

Seiring berjalannya waktu yang semakin modern baik tempat bermain maupun permainan semakin canggih.

Semua itu tidak bisa dipungkiri, pada kenyataannya masih ada anak anak yang tempat permainannya masih alami.

Anak alam sebutannya, mereka bermain setiap hari di sungai. Sungai itu menjadi saksi kebahagiaan mereka. 

Anak anak itu bahkan tidak peduli akan bahaya di kemudian hari, bahwa sungai yang tempat mereka bermain, meloncat, berenang, dan menjadi tempat kebiasaan warga setempat buat mandi. 

Sesekali mereka menyeberangi sungai itu dari tempat mereka berdiri ke seberang sana, kalau di pikir pikir anak sekecil itu apa mungkin bisa ?” tanyaku dalam hati.

Semakin penasarannya aku memberanikan diri bertanya?

“Kalian nggak takut mandi di sungai yang besar dan deras ini ?” tanyaku.

“Nggak, jawab salah satu dari anak itu.

“Kenapa?.

“Kami sudah biasa mandi di sungai ini” jawab mereka.

Habis dari bertanya aku tinggal melihat mereka saja. Jangankan mandi serta melompat seperti mereka, hanya melihat saja sudah ketakutan. Oh, tidak pernah kubayangkan sungai yang tenang di atas tetapi deras di dalamnya menyimpan banyak tanda tanya?

Masyarakat setempat menyebutnya sungai itu dengan sebutan sungai Bakong. Sungai yang menjadi kebutuhan masyarakat baik untuk mandi, mencuci bahkan buat air minum.  

Anak alam itu aku temukan saat sedang liburan di ujung Kalimantan Barat perbatasan dengan Kalimantan Tengah. 

Tempatnya lumaian jauh dari keramaian. Benar benar dipelosok desa, jangankan melihat permaianan atau tempat yang modern seperti sekarang ini. Akses jalan dan listrik saja susah di tempat itu, tetapi aku salut melihat mereka ada pancaran kebahagiaan.

Anak alam memang mempunyai cara tersendiri buat mereka bahagia. Walau terlahir di pelosok desa,  semangat yang tinggi membuat mereka bertahan dan bermimpi mewujudkan cita cita mereka di masa depan.

Bakong, 26 Desember 2017